—For immediate distribution—

ALERT Scientists urge Indonesian President to conserve Tapanuli Orangutan (in Indonesian)

Download PDF

10 July 2018

Kepada: 
Yang Terhormat Presiden Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia
Di Tempat

Bapak Presiden yth, 
Kami yang menulis surat ini kepada Bapak merupakan perkumpulan ilmuwan terkemuka di dunia ini dengan perhatian khusus pada salah satu spesies satwa liar yang paling terancam punah dan terkenal di Indonesia.

Seperti yang Bapak ketahui, Indonesia adalah negara dengan keragaman lingkungan hidup dan biodiversitas yang hampir tak terbatas. Bagian utara dari Pulau Sumatera adalah salah satu yang paling penting dari semua lokasi di Indonesia dan merupakan tempat terakhir di muka bumi di mana orangutan, harimau, gajah, dan badak masih hidup bersama.

Orangutan Tapanuli
Sumatra Utara juga menjadi rumah bagi sejenis orangutan yang baru secara ilmiah dideskripsikan tahun lalu - yaitu Orangutan Tapanuli. Jenis ini berbeda dari orangutan yang lain di Sumatera dan Kalimantan. Mereka memiliki genetika yang khas, dan bentuk tubuh dan kepala, perilaku, dan vokalisasi yang berbeda dengan jenis lain. Orangutan Tapanuli adalah jenis kera besar yang unik dan khas dan hanya ada di Indonesia. 

Orangutan Tapanuli adalah jenis ketujuh dari kera besar di dunia dan yang paling terancam, dengan kurang dari 800 individu yang masih bertahan hidup dalam hutan dengan luas kurang dari seperlima luas wilayah megapolitan Jakarta.

Karena Orangutan Tapanuli adalah kera besar yang paling terancam di dunia, ada niat besar di tingkat nasional maupun internasional untuk melestarikan orangutan Tapanuli yang unik ini. Populasinya yang sangat kecil telah terpecah dalam tiga bagian hutan yang terpisah. Ada dua hal yang sangat penting. Pertama adalah melindungi ketiga fragmen hutan tersebut dari semua bentuk degradasi, dan yang kedua adalah menghubungkan kembali ketiga fragmen hutan melalui upaya restorasi hutan.

Proyek PLTA di Batang Toru
Yang tidak kalah pentingnya adalah dampak proyek PLTA Batang Toru yang didanai RRC. Proyek ini bisa menjadi pemicu kepunahan bagi orangutan Tapanuli. Sisa habitatnya akan dipotong oleh jalan baru, saluran listrik, terowongan, dan sarana lain dan sebagian habitat kuncinya akan ditenggelamkan waduk. Jalan adalah ancaman yang sangat berbahaya karena mereka membuka habitat orangutan untuk pemburu, penebang liar, penambang, dan perambah lahan. Analisis ilmiah baru-baru ini menunjukkan bahwa orangutan Tapanuli hanya bertahan hidup di mana tidak ada jalan.

Unsur proyek PLTA Batang Toru yang menghasilkan ancaman besar bagi habitat terakhir orangutan Tapanuli termasuk:

• Sebuah terowongan besar (diameter 10 meter) akan membelah hutan primer sepanjang 13 Km, dan penggalian terowongan akan menghasilkan jutaan meter kubik limbah tanah dan batuan;

• Jalan inspeksi untuk terowongan di sepanjang hutan primer ini;

• Saluran listrik tegangan tinggi yang membelah hutan primer;

• Pembangunan PLTA di atas episentrum gempa bumi di Sumatera Utara, sangat dekat dengan patahan tektonik utama;

Usulan Tindak Lanjut
Oleh karena itu, dengan segala hormat, adapun usulan tindak lanjut yang kami ingin sampaikan:

1. Menghentikan segala bentuk pembangunan di dalam sisa terakhir habitat orangutan Tapanuli yang sangat terancam punah;

2. Memberi status lindung pada sisa terakhir yang menjadi habitat orangutan Tapanuli serta mengembangkan manajemen dan pelindungan yang efektif, penataan batas yang jelas, dan pengamanan termasuk  upaya pencegahan perburuan yang serius.

3. Mengambil langkah dalam waktu dekat untuk menghubungkan kembali blok-blok habitat yang tersisa dengan koridor hutan (hal yang sangat layak mengingat bahwa fragmen tidak dipisahkan oleh jarak jauh).

4. Daftarkan orangutan Tapanuli sebagai jenis yang resmi dilindungi di Indonesia dengan perhatian khusus. 

Bapak Presiden yang kami sangat hormati, kami mengetahui bahwa Bapak mempunyai latar belakang di bidang kehutanan dan Bapak telah berupaya keras untuk mengurangi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera. Kami menghimbau Bapak untuk membantu melestarikan jenis satwa liar paling unik dan terkenal di seluruh Indonesia. Orangutan Tapanuli sungguh menjadi spesies satwa liar yang sangat khas dan terkemuka di dunia seperti gorila gunung, simpanse, bonobo dan orangutan Sumatera dan Kalimantan.

Tindakan seperti ini akan disyukuri banyak pihak baik di Indonesia maupun di mancanegara yang sudah lama menunggu pemimpin yang berani mengedepankan pelindungan nyata bagi lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati. Apalagi mengingat bahwa di dunia saat yang semakin banyak pihak yang hanya mementingkan diri sendiri, dan pemimpin dari banyak negara-negara lain tampaknya telah kehilangan pandangan akan pentingnya lingkungan yang lestari bagi warga negara dan anak-anak kita.

Kami sangat berterima kasih atas pertimbangan Bapak terkait masukan dan permohonan kami.

Salam Hormat,


Associate Professor Onrizal Onrizal
Fakultas Kehutanan
Universitas Sumatera Utara
Medan, INDONESIA

Professor Jatna Supriatna 
Professor of Conservation Biology, Universitas Indonesia
Indonesia Chair, U.N. Sustainable Development Solution Network
Chairman, Indonesia's Environmental Scholar Association
Member of Indonesia Academy of Science
Jakarta, INDONESIA

Distinguished Professor William F. Laurance
Australian Laureate & Prince Bernhard Chair in International Nature Conservation
Fellow of the Australian Academy of Science
Fellow of the American Association for the Advancement of Siences
Director of the Centre for Tropical Environmental and Sustainability Science
President (Emeritus), Association for Tropical Biology and Conservation
James Cook University
Cairns, AUSTRALIA

Dr Gabriella Fredriksson
Knighted ‘Order of the Golden Mark’ by the Netherlands
Founder, Pro Natura Foundation
Medan, Sumatra
INDONESIA

Professor Thomas E. Lovejoy
Environmental Advisor to three U.S. Presidents
Fellow of the American Association for Arts & Sciences
Fellow of the American Association for the Advancement of Science
Department of Environmental Science and Policy
George Mason University
Virginia, USA

Associate Professor Martine Maron
ARC Future Fellow
Deputy Director, Theatened Species Recovery Hub
University of Queensland
Brisbane, AUSTRALIA

Professor John Terborgh (Emeritus)
Fellow of the National Academy of Sciences USA
MacArthur ‘Genius’ Award Winner
Director, Center for Tropical Conservation
Duke University
Durham, North Carolina, USA

Professor Priya Davidar
Fellow of the American Association for the Advancement of Sciences
Dean (Emeritus), School of Life Sciences
University of Pondicherry
Pondicherry, INDIA

Professor Philip Fearnside
Fellow of the Brazilian Academy of Science
Winner of Brazil’s National Ecology Prize, the UN Global 500 award, the Conrad Wessel Prize, and the Chico Mendes Prize
National Institute for Amazonian Research (INPA)
Manaus, BRAZIL

Dr Mohammed Alamgir
Institute of Forestry and Environmental Sciences
University of Chittagong
Chittagong, BANGLADESH

Dr Erik Meijaard
Director, Borneo Futures Initiative
Center for International Forestry Research
Bogor, INDONESIA

Associate Professor Alice Hughes
Chinese Academy of Sciences
Xishuangbanna Tropical Botanical Garden
Xishuangbanna, CHINA

Dr Francisco Dallmeier
Director, Center for Conservation and Sustainability
Smithsonian Conservation Biology Institute
Washington, D.C., USA

Professor Pierre-Michel Forget
President, Society for Tropical Ecology
President (Emeritus), Association for Tropical Biology and Conservation
Muséum National d’Histoire Naturelle
Paris, FRANCE

Associate Professor Susan G. Laurance
President (Emeritus), Association for Tropical Biology and Conservation
ARC Future Fellow
Centre for Tropical Environmental and Sustainability Science
College of Science and Engineering
James Cook University
Cairns, AUSTRALIA

Dr Nandini Velho
Royal Bank of Scotlands ‘Earth Heroes’ Award
Wildlife Service Award: Sanctuary Asia
Columbia University, New York, USA
Indian Institute of Science Bangalore
INDIA

Dr Cagan Sekercioglu
Whitley Gold Award Winner
Department of Biology
University of Utah
Salt Lake City, USA

Professor James Watson
Interim Director, Centre for Biodiversity and Conservation Science
University of Queensland
Brisbane, AUSTRALIA

Dr Jean-Philippe Puryvaud
Director, Sigur Nature Trust
Tamil Nadu, INDIA

Dr Thomas Struhsaker
Adjunct Professor
Department of Evolutionary Anthropology
Duke University
Durham, North Carolina, USA

Dr Mahmoud Ibrahim Mahmoud
Director, Remote Sensing Unit
National Oil Spill Detection and Response Agency
Abuja, NIGERIA
Associate Professor Craig Morley
BP Gold Award Winner
Waiariki Institute of Technology
Rotorua, NEW ZEALAND

Dr Jedediah Brodie
Craighead Endowed Chair of Conservation
Division of Biological Sciences & Wildlife Biology Program
University of Montana
Montana, USA

Professor Corey Bradshaw
Fellow of the Royal Society of South Australia
Australian Ecology Research Award Winner
Founder of ConservationBytes.com
Flinders University
Adelaide, AUSTRALIA

Dr Mason Campbell
Field Director, Asia-Pacific Program
Centre for Tropical Environmental and Sustainability Science
College of Science & Engineering
James Cook University
Cairns, AUSTRALIA

Dr Carol X. Garzon-Lopez
Founder of Verde-Elemental.org
Universidad de Los Andes
Vegetation Ecology and Physiology
Bogota, COLOMBIA

Bill Laurance